Melakukan perbuatan dengan sungguh-sungguh adalah bukan perbuatan mudah apa lagi melakukan sungguh-sungguh dalam beribadah, selain banyak halangan dan gangguan banyak juga kepentingan-kepentingan yang menjadi kesibukan diri kita, maka semua itu adalah perlu kekuatan dan niatan yang kuat.
Kesibukan-kesibukan itu sering terjadi pada wanita yang ngurus sana-sini apa lagi yang sudah punyak anak, ngurus anak dan segala tanggung jawab, akhirnya kadang kita shalat masih ingat hal-hal yang tersilap, misalnya pada takbir pertama ingat kalau tadi nyimpan uang tapi lupa nyimpannya dan lain-lain yang bisa mengganggu konsentrasi ibadah.
Oleh karena itu agama menganjurkan dan mengajarkan untuk khusuk dalam beribadah menghadap Allah dengan meninggalkan segala urusan dunia, tentunya hal ini perlu belajar dan berlatih agar kita tidak sia-sia dalam melaksanakan ibadah.
Ummu Banin binti Abdul Aziz saudara perempuan Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi para wanita, kemudian mereka berkumpul dan berbicara disisinya sedangkan ia melaksanakan sembahyang, kemudian aku menuju ke tempat mereka dan berkata: “Aku menyukai pembicaraan kamu, namun apa bila aku sedang mengerjakan sembahyang, aku telah melupakan kamu”.
Inilah sebuah contoh wanita shaliha dalam keadaan apapun ketika beribadah khusuk dan hanya Allah saja yang dihadapannya, wlaupun suara gemuruh gemericik tidak mengganggu kakhusukkannya menghadap Allah, jadi Hati wanita yang shaliha bener-bener terpisah antara kepentingan dunia dan ibadah.
Sehingga dunia dijadikan sarana untuk mencapai akhiratnya bukan akhiratnya yang menjadi korban terhadap kepentingan dunia, sesibuk apapun seorang wanita shaliha tetap mendahulukan ibadahnya, jika hal-hal seperti ini sering dilakukan maka dalam diri seorang shaliha akan memiliki konsep bahwa dalam masa-masa tertentu apa yang akan dilakukan akan siap untuk mengatur kegiatan demi ibadahnya.
Sehingga ketika shalatnya khusuk akan berdampak pada sikap dan perbuatannya, sebagaimana shalat dapat mencegah perbuatan kejih dan munkar akan benar terasa pada kepribadiannya, akhirnya sikap shalihanya akan menjadai tauladan, terhadap anak-anak yang dididik, kawan dan tetangganya.
Sebesar apapun kepentingan dunia bukan menjadi penghambat dalam menjalankan ibadah tapi menjadi kan bertambah pandaiannya dalam menghadapi setiap permasalahan, sebab dunia bukan menjadi tujuan hidupnya, sehingga pikiran stress, bingung dan susah karena dunia wanita shaliha tidak mengenalnya, dia akan rugi jika dunia sudah merusak kekusukkannya dalam menghadap Allah.