Rasa cinta itu memang sangat berarti dalam diri seseorang sampai sanggub berkorban dan mengalakan apa saja yang menghalanginya
dengan cinta itu seakan akan memiliki kekuatan yang luar biasa tapi kehebatan sebuah cinta adalah cinta kepada Allah.
Kita baca sebuah wanita shaliha yang mencintai Allah dari sebuah cerita Abdullah Afifi, pada tahun 1914 M ketika Afifi mau ke Kaheran dan naik sebuah kereta api bersama dengan seorang anak gadis yang berumur 17 thn, ketika duduk di dalam kereta api bersama dengan seorang yang tua umurnya 60 thn.
Affifi mencoba berbicara dengan orang tua itu kemana tujuannya ? dan kenapa dengan gadis itu.,? orang tua itu menjawab aku orang Sepanyol dan anak gadis itu adalah anakku yang telah menentangku, pada suatu pagi aku terkejut disebabkan suaranya yang sedang mengerjakan sembahyang sebagaimana sembahyangnya wanita muslimah.
Sejak saat itu aku mulai mempersiapkan pakaiannya dan aku berikan pakaian yang berwarna putih dengan fesyen terbuka dada, lalu aku hilangkan waktunya untuk sembahyang, puasa dan sujud, pada awalnya dia dipanggil dengan nama Rose, namun ia tidak mahu kecuali di panggil dengan nama Fatimah,tidak beberapa lama saudaranya yang kecil juga mengikuti jejaknya.
Hal ini membuatku mengirim surat kepada kedutaan Spanyol yang berada di Kaheran untuk memutuskan orang yang keluar dari agamanya, Anak gadis itu akhirnya sedih dan lalu aku berkata kepadanya :” apa yang terjadi Fatimah..?, dengan pura-pura baik padahal aku tidak pernah baik padanya, kemudian dia menjawab:”aku mempunyai tetangga yang beragama muslim pada suatu hari aku diundang kerumah mereka kemudian aku mendengar tentang agama mereka.
Pada suatu malam ketika aku tertidur aku bermimpi melihat nabi Muhammad yang diliputi Nur yang menyilau mata, seraya menjulurkan tanggannya beliau berkata:”Mendekatlah wahai Fatimah”, lalu dia mengucapkan :”aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.” Ia menarik nafas dan menangis, ketika ia sudah kembali normal , aku bertanya kepadanya:” Apa yang kamu takutkan dan kwatirkan?”
Ia menjawab:”Aku akan dipaksa pulang kekampung halaman, disana nantinya cambukan akan mengalirkan darahku, dan aku tidak rakut akan hal itu, melainkan aku takut suatu hari aku terhalang melakukan sembahyang dan ibadahku,” aku berkata kepadanya: ”Wahai Fatimah, aku akan memberikan petunjuk kepadamu suatu kebaikan atas masalah yang kamu alami, “ia manjawab:”baik”.
Aku berkata: ”Sesungguhnya hukum Islam itu berada di dalam hati, maka tidak ada salah bagimu jikalau kamu mengakui didepannya nanti berpegang dengan agamamu yang dahulu dan kamu tinggalkan islam berada dalam hatimu, sehingga ia tidak mencelakakanmu?”
Dengan pandangan mata ia menatap kepadaku, sehingga membuatku merasa bersalah, lalu ia berkata:”sekalipun leher terpenggal dan persendian terputus aku tidak akan melakukannya! Tinggalkan aku ! Bagaimana aku dapat melakukannya, jiwaku taat, namun lisanku bermaksiat.”
SubhanAllah seorang gadis yang masih berumur 17 tahun begitu yakin, berani, dengan keteguhan agamanya dan cintanya yang mendidih di setiap jasmaninya sehingga menyebabkan sesuatu tidak kuasa mengalahkan cintanya kepada Allah.