
- Image via Wikipedia
Sifat tawakal adalah sebaik-baik akhlak seorang muslim, muslimah, wanita muslimah yang shaliha percaya dengan sebenar-benarnya pada Allah dengan berpegang pada risalah Rasul-Nya dan menyerahkan semua urusannya pada Allah sehingga tidak takut apa pun kecuali takutnya pada Allah.
Akidah dan imannya semakin kuat baik dalam urusan apa pun tidak lepas dari perintah dan tuntunan agama, kepandaian, kekayaan dan segalanya hanya Allah yang memiliki, hanya Allah yang berhak mengatur bukan manusia dan bukan pemimpin karena semua adalah ciptaan Allah.
Memang kadang manusia begitu senangnya dengan urusan dunia meninggalkan bahkan lupa akan perintah agama hal sekecil misalnya shalat dengan alasan sibuk kerja, banyak masalah, shalat lupa tanpa di pikir tapi ketika perut lapar nomor satu yang dipikirkan.
Apa lagi perintah pimpinan amat sangat di hargai dan di taati sedangkan perintah agama di nomor duakan, begitulah orang-orang yang lali terhadap perinta yang mulia, dunia bukan tujuan bagi wanita shaliha tapi wahana untuk mencapai keridhaan-Nya.
Suatu kisah dari Ummu Hasan, berkata kepada Sufyan:” Wahai Sufyan ! pada awalnya kamu adalah orang hebat pada pandangan mataku dan dihatiku selama ini, sesungguhnya aku tidak memohon kepada dunia yang ada Zat yang memiliki, mengatur dan memutuskannya, bagaimana aku dapat memohon kepada orang yang tidak mampuh mengatur dan memutuskan didalamnya? Wahai Sufyan ! Demi Allah, aku tidak suka kamu datang kepadaku, ketika aku sibuk berdzikir kepada Allah.” Maka menangislah Sufyan.
Begitulah kiranya kekuatan iman wanita shaliha semua urusan disandarkan pada Allah, semua yang ada dibumi ini memang Allah yang menciptakan tapi tidak ada kekuatan untuk menyandarkan atas ciptaannya, hanya yang maha pencipta yang pantas di jadikan sandaran.
Kekuatan tawakal dan percaya wanita shaliha akan memperkuat pribadinya dari segala pengaruh baik setan maupun manusia dari bentuk kesyirikan sekecil apapun, sebab apapun yang dimiliki manusia tidak akan kekal hanya Allah yang memiliki kekekalan, sehingga tidak harus bingung dengan segala urusan dunia yang hanya sementara didiaminya.
Inilah sebuah akidah tawakal dan percaya yang kuat kepada Allah tidak gentar dan luntur oleh apapun yang menghalangi dan mempengaruhinya, hanya Allah tempat bersandar, meminta dan penyerahan diri sepenuhnya, “ Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang disisi Allah adalah kekal,” (An-Nahl:96). Wallahu’alam
