Ketika sedih, mendapat musibah, kesusahan banyak orang memanjatkan doa kepada Allah agar mendapatkan penyelesaiannya, bahkan dalam keadaan berbaring, duduk, tidur memanjatkan doa terus-menerus atas masalah yang dihadapinya, tapi setelah semua selesai mereka tidak lagi berbaring, duduk, tidur untuk mengingat Allah, itulah sifat dasar manusia.
Dalam keadaan susah, sedih mereka selalu mengingat Allah tapi dalam keadaan senang, gembira dia lupa siapa yang memberi kesenangan dan kegembiraan itu akhirnya timbullah kesombongan, ketamakan lebih-lebih menganggab semua ini adalah hasil jerih payahnya naudzubillah.
Ini menggambarkan bahwa sifat-sifat manusia yang amat sangat mencintai dunia ketika dunia didapatkan butalah mata hati akan akhiratnya, semua tau bahwa dunia hanya sementara tapi banyak orang yang tak mahu tahu, apa lagi seorang wanita yang selalu gembira dengan keindahan, kemewahan akan isi dunia ini akan melupakan dirinya akan kebesaran Allah.
Wanita shaliha memandang dunia bukan untuk kesenangan tapi untuk mengingat akan alam akhirat, dalam setiap kesenangan, kesedihan dan kebahagiaan semua peristiwa ini yang dialaminya selalu mengingatkan pada akhirat kalak, sehingga dia akan takut menyakiti hati orang apa lagi akan berbuat dosa.
Dalam setiap kejadian yang dialami selalu menganggab semua adalah kebesaran Allah dan akan mengambil sebuah hikmah dari setiap peristiwa, ada suatu Riwayat dari Yahya bin Rasyid, ia berkata:” ketika kami berada di rumah Afirah, tiba-tiba saudara lelakinya yang sudah lama pergi pun datang, hal ini membuatnya bergembira dan menangis.
Ada orang bertanya kepadanya: “kenapa kamu menangis ? bukankah ini hari bahagia dan senang ?” Maka Afirah semakin bertambah menangis, lalu ia berkata :” Demi Allah ! aku tidak menemukan kebahagiaan didalam hatiku yang membuat tenang, ketika aku juga teringat akan akhirat, kedatangannya telah mengingatkanku pada manusia menghadap Allah. Kemudian ia pengsan.
Kegembiraan-kegembiraan wanita shaliha menjadikannya takut akan keadaan diakhirat, dengan menangis, bersedih seakan-akan kita semua akan dikumpulkan dengan membawa sejuta dosa-dosa yang telah kita perbuat, yang akan di pertanggung jawabkan dihadapan Nya.
Wanita shaliha dalam keadaan senang dan sedih selalu ingat akan kebesaran Allah bukan tenggelam dalam kesenangan yang sedang dihadapinya, bukan sedih karena kesedihan yang dirasakan tapi sedih akan ancaman Allah kalak, sedih dan takut menjadi orang yang kufur sehingga dunia dihadapinya dengan besar jiwa, sabar dan tawakal.
Apa pun yang terjadi didunia ini bagi hati wanita shaliha tidak merasa bangga diri, sombong, angkuh dan semua hanya kecil di hadapan Allah, rasa takut yang ada dalam diri wanita shaliha semakin mendekatkan dirinya pada Allah dan menghadirkan kebesaran-Nya dalam setiap keadan dan situasi apa pun.